Salah satu keutamaan Istiqomah dalam melakukan suatu amalan adalah pahalanya akan tetap terus mengalir setiap saat kepada seseorang baik dalam kondisi melakukan amalan tersebut ataupun dalam kondisi orang itu berhalangan untuk melakukan amalan yang menjadi kebiasaannya.
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda
إذا مرضَ العبدُ أو سافرَ كتبَ لَهُ من العملِ ما كانَ يعملُهُ وَهوَ صحيحٌ مقيمٌ
أخرجه البخاري (2996)
“Jika seorang hamba sakit atau dalam perjalanan maka tetap dituliskan baginya Pahala amalan yang biasa dia lakukan disaat sehat atau saat mukim (sehingga pahalanya tetap mengalir untuk hamba tersebut)”
(HR Bukhari no.2996)
Maka ketika seseorang terbiasa melakukan suatu amalan disaat sedang dalam kondisi sehat atau sedang tidak bepergian jauh (safar). Kemudian, dia tidak mampu mengerjakan amalan yang biasa dia lakukan karena sakit atau safar. Maka, dia akan tetap mendapatkan pahala suatu amalan yang menjadi kebiasaannya itu.
Contohnya seseorang terbiasa puasa senin kamis. Tapi, karena dia sakit atau safar sehingga dia berhalangan untuk mengerjakannya. Maka, dia akan tetap mendapatkan pahalanya walaupun dia tidak mampu menjalankan puasanya itu.
Sehingga sepatutnya setiap muslim berusaha untuk memiliki amalan yang berkelanjutan (Istiqomah) walaupun ringan. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda
أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ
أخرجه البخاري (6465)، ومسلم (783)
” Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan (Istiqomah) walaupun sedikit atau ringan”
(HR Bukhari no. 6465, Muslim no.783)
Maka jangan remehkan amalan-amalan ringan yang kita lakukan, walaupun ringan atau sedikit. Namun bila kita tetap kontinu menjalankan nya, maka ibarat sebuah bisnis, amalan-amalan itu akan menjadi passive income pahala bagi kita yaitu pahalanya tetap mengalir seiring kita melakukan amalan dengan Istiqomah walaupun kita tidak sedang mengerjakannya.
Wallahu a’lam
Referensi :
Penomoran Hadits diambil dari : https://dorar.net/hadith
Baca juga : Apa itu BTKV ?

